Masa putih abu-abu
memang indah. Tidak begitu berlainan dengan masa kuliah. Aku sudah begitu lupa
dengan masa polos di sekolah remaja itu. Atau hanya karena sekarang aku memang
sudah beranjak dewasa (baca: tua). Yang aku ingat hanya sebuah tempat dimana
aku menghabiskan waktu untuk menuntut ilmu hingga mampu mengantarkan aku hingga
sampai disini. Sekarang ini..
Beberapa waktu
ini, teman sebangku ku mengingatkan aku tentang seseorang yang ada dalam masa
remaja ku itu. Sesorang yang bisa dibilang aku kagumi waktu itu. Sangat kagumnya,
sampai aku harus melihatnya setiap hari, agar aku bisa tersenyum. Semangat agar
aku berangkat ke tempat yang disebut sekolah itu :)
Kami berdua (dg
teman sebangku ku) sering menyebutnya dengan nama maz Kliwon. Nama yang begitu
ndeso dan sedikit menyeramkan.hehe.. tapi itulah cara kami sebagai pengagum
rahasianya (tsaaaaah..). Entah kenapa dan dari mana kami mengambil nama
panggilan itu, yang pasti dengan nama itu kami dapat menyembunyikan hal itu
sampai saat ini.
Pada saat yang
tepat, kabar tidak baik darinya kuterima~tidak berbeda jauh dengan kabarku. Perpisahan
dengan orang pernah pernah kita sayang-sayang dan perhatikan memang tidak
mudah, bahkan bisa dibilang sangat sulit. Se sulit mengeluarkan hati kita dari
tubuhnya. Tidak mungkin bukan, memang begitu. Sudah sewajarnya aku berbahagia
sekali mendapatkan kabar itu (jahat ya?). Tentunya karena aku merasa
mendapatkan teman senasib.
Sangat konyol
mengenang masa masa dimana kami berdua menggodanya (lebih tepatnya meneror
hidupnya). Dari misscall2 ke nomer hapenya, mengirimkan sms selamat malam,
puisi tidak jelas, atu sekedar curi-curi pandang dengannya. Entah maz Kliwon
ingat atau tidak, karena aku saja sudah tidak begitu ingat apa saja yg telah
kami lakukan padanya.
Teman sebangku ku
mengingatkan akan video yang kami shoot pada’nya’, dimana dia berjoget ria pada
pensi sekolah atau pada saat di ‘dia’ nongkrong di tempat parkir sekolah [karena kelas kami,
bersebelahan dengan tempat parkir]. Yang benar2 masih ku ingat hanya kami
pernah mencoba memberi sebuah mawar untuk ditaroh di motornya, hanya untuk
mengetahui bagaimana reaksinya. Oops , tidak jadi.. (kenapa?) tentu saja karena
kami takut ketahuan.
Apapun cerita masa
putih abu abu itu selalu bisa saja membuatku tersenyum, apalagi saat mengingat
maz Kliwon :* mengingatnya dalam diam karena. . .