18.1.13

maz Kliwon?


Masa putih abu-abu memang indah. Tidak begitu berlainan dengan masa kuliah. Aku sudah begitu lupa dengan masa polos di sekolah remaja itu. Atau hanya karena sekarang aku memang sudah beranjak dewasa (baca: tua). Yang aku ingat hanya sebuah tempat dimana aku menghabiskan waktu untuk menuntut ilmu hingga mampu mengantarkan aku hingga sampai disini. Sekarang ini..

Beberapa waktu ini, teman sebangku ku mengingatkan aku tentang seseorang yang ada dalam masa remaja ku itu. Sesorang yang bisa dibilang aku kagumi waktu itu. Sangat kagumnya, sampai aku harus melihatnya setiap hari, agar aku bisa tersenyum. Semangat agar aku berangkat ke tempat yang disebut sekolah itu :)

Kami berdua (dg teman sebangku ku) sering menyebutnya dengan nama maz Kliwon. Nama yang begitu ndeso dan sedikit menyeramkan.hehe.. tapi itulah cara kami sebagai pengagum rahasianya (tsaaaaah..). Entah kenapa dan dari mana kami mengambil nama panggilan itu, yang pasti dengan nama itu kami dapat menyembunyikan hal itu sampai saat ini.
Pada saat yang tepat, kabar tidak baik darinya kuterima~tidak berbeda jauh dengan kabarku. Perpisahan dengan orang pernah pernah kita sayang-sayang dan perhatikan memang tidak mudah, bahkan bisa dibilang sangat sulit. Se sulit mengeluarkan hati kita dari tubuhnya. Tidak mungkin bukan, memang begitu. Sudah sewajarnya aku berbahagia sekali mendapatkan kabar itu (jahat ya?). Tentunya karena aku merasa mendapatkan teman senasib.

Sangat konyol mengenang masa masa dimana kami berdua menggodanya (lebih tepatnya meneror hidupnya). Dari misscall2 ke nomer hapenya, mengirimkan sms selamat malam, puisi tidak jelas, atu sekedar curi-curi pandang dengannya. Entah maz Kliwon ingat atau tidak, karena aku saja sudah tidak begitu ingat apa saja yg telah kami lakukan padanya.
Teman sebangku ku mengingatkan akan video yang kami shoot pada’nya’, dimana dia berjoget ria pada pensi sekolah atau pada saat di ‘dia’ nongkrong di tempat parkir sekolah [karena kelas kami, bersebelahan dengan tempat parkir]. Yang benar2 masih ku ingat hanya kami pernah mencoba memberi sebuah mawar untuk ditaroh di motornya, hanya untuk mengetahui bagaimana reaksinya. Oops , tidak jadi.. (kenapa?) tentu saja karena kami takut ketahuan.
Apapun cerita masa putih abu abu itu selalu bisa saja membuatku tersenyum, apalagi saat mengingat maz Kliwon :* mengingatnya dalam diam karena. . .

“Diam memberikan ruang bagi selain tubuh untuk bicara,
…Lebih terdengar dari pada biasanya
…Lebih hidup, lebih bermakna”